Minggu, 28 Mei 2017

Kritik Objektif Novel "Keberangkatan"



KEBERANGKATAN
SINOPSIS
Elisabet Frissart merupakan seorang pramugari keturunan Belanda yang  jatuh cinta kepada tanah air dan bangsa Indonesia. Elisabet lebih memilih bertahan di Indonesia dia merasa bahwa dirinya adalah orang Indonesia sehingga tidak tergoda untuk ikut “berangkat” ke negara Belanda bersama keluarganya ketika terjadi aksi anti Belanda dan anti Barat pada masa Soekarno. Ia melihat keberangkatan keluarganya dan orang-orang  sebangsanya ke negeri Belanda. Selama berada di Indonesia, Elisa tinggal di suatu rumah pondokan bersama Lansih, sahabatnya dan empat pegawai Garuda yang lain.
Seperti gadis-gadis lain, Elisa berangan-angan untuk membina sebuah rumah tangga. Di antara kenalan-kenalan itu Elisa mempunyai pilihan yang beragam, ada Peter, Luis, dan Rudi. Namun hanya Rudi-lah yang paling dekat dengan Elisa tetapi Elisa berhasil menempatkan diri di daerah netral sehigga belum ada hubungan yang khusus antara dirinya dengan Rudi. Hingga suatu ketika ketika Elisa dikenalkan oleh Lansih kepada Sukoharjito, saudara Lansih. Elisabet jatuh cinta kepada Sukoharjito, pemuda asal Solo. Sukoharjito bekerja pada bagian Protokol di istana. Dengan pemuda ini ia benar-benar jatuh cinta dan percaya kepadanya. Suatu hari, Elisa diajak Sukoharjito untuk mengunjungi orang tuanya yang berada di Solo pada saat lebaran. Keluarga Sukoharjito menyambut ramah kehadiran Elisa.
Suatu ketika, Elisa berkenalan dengan Tuan Sayekti,untuk meminta informasi tentang Talib, seseorang yang menurut Elisa adalah ayah kandungnya yang kini tinggal di Surabaya, tempat masa kecil Elisa.  Di sisi lain, Elisa diperkenalkan oleh kawannya dengan seorang wartawan bernama Gail, pertemanan dengan Gail pun cukup menyenangkan bagi Elisa. Hingga suatu ketika akhirnya Elisabet pun harus menerima kenyataan berat bahwa kekasihnya telah mengkhianati dirinya dengan menikahi orang lain dan dari orang lain Elisa mendengar bahwa kekasihnya itu segera kawin dengan kemenakan ajudan presiden yang telah dihamilinya. Elisa sangat terkejut mengetahui hal tersebut.
Semenjak kejadian itu, Elisa menjadi berbeda. Ia lebih sering menyendiri ketimbang bergaul dengan yang lain. Teman-teman Elisa khawatir melihat keadaan Elisa yang seperti ini, tak terkecuali Gail. Gail pun akhirnya berhasil mengubah suasana hati Elisa kembali seperti sedia kala. Suatu hari Elisa mengalami suatu kecelakaan pesawat pada saat jam kerjanya. Kabar ini tersiar sampai ke telinga Gail. Hingga akhirnya Elisa memutuskan mengurus perpindahannya ke negeri Belanda. Keinginan meninggalkan Indonesia yang semula disebabkan oleh Sukoharjito, semakin hari semakin bertambah sebab-sebabnya. Elisa merasa tidak yakin dengan dirinya yang sekarang. Elisa memberitahukan kepindahannya ini kepada Gail. Elisa menjelaskan semua yang dirasanya kepada Gail. Hingga akhirnya Elisa dan Gail pun menyadari ada rasa diantara keduanya. Rasa yang membawa Elisa berangkat ke Belanda dengan hati rawan tetapi tenang.

Kritik Objektif pada Novel “Keberangkatan” Karya N.H. Dini
Berdasarkan sinopsis diatas, dapat simpulkan bahwa tema dari novel “Keberangkatan” karya N.H.Dini ini bertemakan Pencaharian Jati Diri . Sedangkan tokoh-tokoh dalam novel ini adalah Elisa, Lansi, Ibu, Wati, Ayah Elisa, Suku Harjito, Rama beick, Tuan Sayekti, Talib, dan Silvi.
Dalam novel ini, Elisa mempunyai sifat pengiba, pendiam, sabar. Terlihat dari kutipan berikut: Karakter pengiba, kutipannya “ sekali lagi hati ku di limpahi perasaan iba yang tidak, dapat ku tafsirkan."(halaman 14). Karakter pendiam, kutipannya “ aku menjadi pendiam dan dingin karena tidak banyak diberi kesempatan buat mengataka isi hati.“(halaman 95) dan Karakter sabar yang dimiliki Elisa terdapat pada kutipan“Aku harus bersabar lagi untuk menerima datangnya pinangan.” (halaman 104). Selanjutnya penokohan dari Lansi. Lansi memiliki sifat sabar dan teliti. Terlihat dari kutipan berikut.“Dengan teliti dan sabar, setiap kali ada sesuatu yang harus diterangkannya tanpa keangkuhan dia memberitahuku.” berpengaulan luasl, kutipannya “ Aku lebih mengenal temanku Lansih. Kukagumi pergaulannya yang luas, kenalan dan kawan – kawannya “(halaman 46) dan karakter sabar dan teliti serta tidak angkuh, kutipannya “dengan teliti dan sabar, setiap kali ada sesuatu yang harus diterangkannya, tanpa keangkuhan dia memberitahuku.”(halaman 46 – 47). Selanjutnya Ibu yang memiliki sifat antagonis, ringan tangan dan matrealistis yang terdapat kutipan ringan tangan, kutipannya “Sikapku terhadap ibuku disebabkan karena perlakuannya yang keras dan kuanggap keterlaluan. Tangannya ringan, sering jatuh menampar muka“ (halaman 20 – 21) dan karakter pemarah, kutipannya “Tindakan yang terdorong kemarahan itu, tidaka ada gunanya, malahan menyebabkan buah bibir yang memalukan.“(halaman 39). Penokohan yang ke empat adalah Wati yang memiliki sifat lemah lembut dan keibuan, kutipannya “namanya Wati, sifatnya lemah lembut dan keibuan.”(halaman 46). Ayah Elisa memiliki sifat penyayang dan baik hati Karakter penyayang, kutipannya “ Ada kalanya perhatian Ayah nampak penuh kesayangan kepadaku.“ (halaman 21) dan karakter baik hati, kutipannya “namun Ayahku yang baik tidak tega meninggalkan aku seorang diri di negeri ini“ (halaman 28).
Penohan yang keenam adalah Suku Harjito, yang memiliki sifat pengecut, kutipannya “melihat sikapnya yang demikian, bagiku dia pengecut. Tidak berani berterus terang kepadamu.“ (halaman 146). Penokohan yang Rama Beick memiliki sifat ramah dan tidak sombong, kutipannya “Dalam suara yang mengelegar tetapi ramah dan tanpa kesombongan.“ (halaman 80). Selanjutnya penokohan Tuan Sayekti yang memiliki sifat baik, pekerja keras dan gigih, kutipannya “ bagaimana tuan Sayekti memperoleh hartanya dengan jalan kerja keras dan kegigihan yang jarang terdapat pada suku bangsa Jawa.”(halaman 160). Talih memiliki sifat pemarah, kutipannya “ tapi Talib menjadi pasif. Seperti tidak ada kemauan lagi buat hidup. Kemudian menjadi pemarah”(halaman 106) dan sifat  pendiam, terdapat kutipannya “ sifatnya pendiam” (halaman 127). Penokohan terakhir adalah Silvi, ia memiliki sifat baik dan pengertian, kutipannya ‘’Silvi adalah satu-satunya anggota keluarga dan kerabat yang memanggil Elisa tanpa akhiran ye di belakang namanya. Silvi mengetahui bahwa Elisa lebih suka panggilan nama biasa, seperti orang-orang Indonesia tulen. Hanya Silvi yang mengindahkan kemauan Elisa”(Halaman 11).
Setelah membahas mengenai tokoh dan penokohan yang terdapat pada novel “Keberangkatan” karya N.H. Dini, selanjutnya membahas latar yang terdapat pada novel. Yang pertama mengenai latar tempat, latar tempat dalam sinopsis di atas adalah bandara dan terdapat kutipan “Dari tempatku, aku mengawasi majunya iringan penumpang, masuk ke bagian Pabean, terus ke Imigrasi. Mereka berdesakan seperti takut ketinggalan pesawat..”(halaman 13). Latar tempat yang lain adalah Pesawat, terdapat kutipan “Sewaktu naik ke udara, di tempat dudukku, kurasakan kami seperti maju melawan tumpahan air dari angkasa.”(halaman 172). Selanjutnya latar waktu yang terdiri dari waktu pagi hingga petang, yang terdapat bebarapa kutipan seperti Pagi, kutipannya“Pagi-pagi buta kami memeriksa tanggung jawab masing-masing. Isi  kabin lengkap dengan bantal, selimut dan perlengkapan keselamatan..”(halaman 114). Siang, kutipannya“Siang itu aku dinas cadangan. Duduk di restoran lapangan terbang, diajak minum oleh seorang kenalan yang kebetulan mengantar penumpang berangkat ke negeri Belanda..”(halaman 104). Sore, kutipannya“Sore itu Anna berangkat ke Surabaya. Sekali itu ia tidak berhasil menukar waktu dinasnya dengan pramugari lain. Tetapi Anna sudah menguasai pelajarannya, dan akan ujian pekan berikutnya..”(halaman56). Waktu yang terakhir adalah Petang, kutipannya “Petang hari, kami tiba di Mangkubumen Kulon. Jalan yang menuju ke rumah orang tua kekasihku tidak beraspal. Di kanan kiri dijajari pohon-pohon cemara, rapi dan sejuk..”(halaman 98).
Selanjutnya mengenai latar suasana, suasana yang terdapat pada novel ini berupa suasana yang menyenangkan, menyedihkan, dan mengecewakan. Sudung pandang yang terdapat pada novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama, yang terdapat kutipan “Aku telah siap. Sebentar-sebentar berdiri berjalan dari depan ke belakang untuk menenangkan urat sarap. Kadang-kadang Wati memandangiku, tetapi tak berkata sesuatu pun. Kupikir, dia tidak pernah mengalami kegelisahan yang kusandang waktu itu.”(halaman 56).
Mengenai alur yang terdapat pada novel “Keberangkatan”, terdapat alur maju dan mundur. Alur majunya terdapat kutipan “Dalam pencaharian tentang asal-usulku yang sebenarnya, aku menemukan mata rantai yang pertama. Aku bertemu dengan seorang pastur berkulit putih yang bernama Rama Beick. Dia adalah salah satu tetanggaku sewaktu aku kecil, ketika masih tinggal di rumah kami di Surabaya.” Dan juga kutipan “sebulan kemudian, aku bertemu dengan kakak perempuanku yang juga kabur dari rumah karena tidak tahan lagi dengan perlakuan ibuku yang terlalu arogan. Aku menemukan kakakku berkat bantuan Rudi.” Sedangkan  Alur mundurnya terdapat “Dari masa kecilku, aku selalu bersama pembantu. Dapat dikatakan pembantulah yang membesarkan aku, waktu itu aku belum menyadari, tetapi kata orang, serasa mudahnya ibu menjadi intaian banyak laki-laki. Dan Talib, sejak aku lahir hampir dia yang menjadi pengasuhku. Aku dibawa kemana-mana, aku selalu bersamanya. Bila malam-malam saat aku sakit, bukan ibu yang menamaniku. Ibu entah dimana, tidur dikamar sendirian atau bersama laki-laki, atau bahkan berdansa digedung pertemuan kota. Itulah gambaran masa kecilku yang suram, yang tak pernah merasakan perawatan dari ibu kandungku sendiri.”
Amanat yang disampaikan oleh pengarang terhadap novel ini  adalah apapun asal usul kita, meskipun pahit dan menyedihkan kita harus tetap menerimanya. Meskipun kita memiliki ibu yang kurang memperhatikan kita, kita juga harus menerima keadaan tersebut. Dengan berpikir positif dan menyadari siapapun dia, bagaimanapun sifat dan tabiatnya, dia tetap ibu kita yang tentunya adalah orang yang melahirkan kita. Dan kita sebagai seorang anak tentunya tak bisa mengingkari semua itu, kita dituntut untuk selalu berbakti.


*Tugas Kuliah Menulis Kritik & Essai

Kritik Ekspresif Cerpen "Peradilan Rakyat"



Peradilan Rakyat

Cerpen “Peradilan Rakyat” merupakan karya Putu Wijaya, cerpen ini menceritakan sebuah dialog seorang anak dan juga ayahnya. Kedatangan seorang anak pada ayahnya ini bukan sekedar hubungan Ayah dan anak melainkan seorang pengacara yang sudah senior kepada pengacara muda atau junior. Pengacara tua itu mendapat julukan Singa lapar dari sebuah buku yang ditulis oleh sebuah Universitas diluar negeri.
Kedatangan pengacara muda ini kepada pengacara tua ini untuk berdialog masalah hukum di Negara yang dirasakan lemah oleh mereka. Pengacara muda ini sedang menangani suatu kasus dipersidangan, pengacara muda ini ditugaskan oleh negaranya untuk membela seorang penjahat yang telah merugikan Negara. Seorang penjahat yang mendapatkan seorang pengacara yang hebat. Penjahat itu juga meminta pengacara muda itu untuk membelanya. Karena pengacara muda itu adalah seorang pengacara yang professional maka dia menerimanya dengan membela penjahat di persidangan, penjahat yang harusnya menjadi musuh Negara dan juga rakyat.
Pengacara itu membela penjahat itu dipersidangan bukan karena uang, ancaman dari penjahat itu, bukan karena mengharapkan balas jasa kelak dari penjahat itu ataupun untuk meraih publikasi krena kehebatannya dalam membela melainkan karena keprofesionalannya menjadi seorang pengacara. Pengacara muda itu tidak bisa menolak karena hal itu adalah kewajiban seorang pengacara untuk membela siapapun diperadilan ketika diminta mejadi seorang pembela.
Dalam dialog itu sudah tergambarkan kemengan persidangan ada di pihak pengacara muda dan penjahat Negara itu, karena bukti-bukti yang diberikan oleh Negara masih sangat sedikit dan lemah, pengadilan itu juga terkesan tergesa-gesa sehingga pengacara itu bisa menang dengan mudah. Namun pengacara tua itu berpesan untuk berhati – hati untuk tidak meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh Negara, Negara juga akan menurunkan sebuah tim untuk menyelesaikan perkara itu. Peradilan saat itu sudah bisa terganbarkan meskipun sidang belum dimulai karena memang hukum dinegara itu masih lemah.
Pengadilan terhadap penjahat itu telah dimulai. Gambaran dari pengacara itu benar-benar terjadi, pengadilan itu dimenangkan oleh pengacara itu, penjahat itupun bebas. Dengan tertawa lepas penjahat itu menerima kebebasannya dan dengan cepat dia pergi keluar negeri dan sudah sulit untuk menjamahnya kembali. Mengetahui hal itu rakyat menjadi marah, mereka turun kejalan. Demonstrasi dimana-mana, gedung pengadilan dibakar, para hakimnya dikejar, dan pengacara muda itu diculik dan disiksa dan setelah menjadi mayat baru dikembalikan. Rakyat sangat marah dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.


Biografi
Putu Wijaya yang kita kenal sebagai sastrawan mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa ia berasal dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944. Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama di Bali, ia mulai menulis cerita pendek dan beberapa di antaranya dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Ketika duduk di sekolah menengah atas, ia memperluas wawasannya dengan melibatkan diri dalam kegiatan sandiwara. Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya.

Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film dan meningkatkan kegiatannya bersastra. Dari Fakultas Hukum UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Akademi Seni Drama dan Film ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman. Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres. Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974).



Kritik Ekspresif Pada Cerpen “Peradilan Rakyat” Karya Putu Wijaya
Terdapat beberapa kutipan cerpen dengan menggunakan kritik ekspresif, yaitu:
“Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin dan beku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara.”
Disini penulis mampu mengekspresikannya dengan baik. Negara sebagai wujud teater, suatu pertunjukan sandiwara. Hal ini pula dilatarbelakangi oleh profesi penulis sebagi seorang sastrawan, penulis pula menjabat sebagai Pimpinan Teater Mandiri, Jakarta sejak tahun 1971 hingga sekarang. Kutipan diatas merupakan wujud ekspreasi jiwa mengenai kedudukan posisi bangsa dan negara saat ini bisa berubah.

Terdapat kutipan cerpen lainnya,yaitu:
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. “Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.”
Pada kutipan cerpen di atas, penulis mampu mengekspresikan diri sebagai seorang pengacara muda, yang profesional, dan cerdas. Hal tersebut pula didasari, bahwa penulis juga merupakan seorang mahasiswa fakultas hukum, penulis sendiri merupakan mahasiswa dari Fakultas Hukum UGM pada tahun 1969.

Pada kutipan cerpen yang ketiga, yang terdapat di bawah ini:
“Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.”
Jika dikaitkan dengan kutipan cerpen di atas penulis mampu mengkritisi pemerintahan, dan memaparkan pandangannya pada pemerintahan tersebut. Bentuk dari ekpresi terhadap situasi dan keadaan yang terjadi dimasyarakat, hal ini pula didasari oleh profesi yang pernah penulis seperti menjadi wartawan di berbagai media cetak dan juga penulis pernah menjadi wartawan majalah Ekspres, wartawan majalah Tempo dan Redaktur Pelaksana majalah Zaman.
                Demikian mengenai beberapa kutipan cerpen dengan menggunakan kritik ekspresif terhadap cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijya.


*Tugas Kuliah Menulis Kritik & Essai

Minggu, 09 April 2017

PPT LANGKAH-LANGKAH MENULIS KRITIK DAN CONTOH KRITIK

Makalah Langkah Penulisan Kritik dan Contoh Kritik

Tugas kelompok                                                                                 Dosen Pengampu
                     4                                                                            Elvrin Septyanti, S.Pd., M.Pd.
                       
MAKALAH MENULIS KRITIK DAN ESAI
LANGKAH-LANGKAH PENULISAN KRITIK
DAN CONTOH KRITIK

Disusun Oleh
Kelompok 4:
Eka Pani Novirna        (1505117073)
Kartika Sarah Difa      (1505117048)
Khairil Fauzan             (1505116668)
Nina Rahayu               (1505121820)
Nirmala Sasanti           (1505116529)
Wirda Safitri               (1505116699)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU
2017



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Swt. karena berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya. Shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah memberikan pedoman bagi manusia untuk dapat hidup bahagia dunia dan akhirat. Makalah ini  berisikan langkah-langkah menulis kritik beserta contoh penulisan kritik dengan pendekatan yang berbeda-beda yang merupakan tugas kelompok pada mata kuliah menulis kritik dan esai.
Makalah ini sudah ditulis dengan maksimal sesuai dengan kemampuan yang ada pada diri penulis. Di samping itu penulis menyadari bahwa makalah ini tidak akan selesai tanpa adanya bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan makalah ini jauh dari kata sempurna karena keterbatasan ilmu yang penulis miliki. Banyak rintangan dan halangan yang dialami oleh penulis. Seperti masih kurangnya sumber-sumber buku yang bisa dijadikan penunjang dalam penyelesaian tugas ini. Oleh sebab itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun akan dengan senang hati penulis terima demi kesempurnaan pada makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan, serta semoga Allah senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

Pekanbaru, Maret 2017



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .........................................................................................................   i
DAFTAR ISI ......................................................................................................................   ii
BAB I
1.1  Latar Belakang...................................................................................................   1
1.2  Rumusan Masalah................................................................................................    1
1.3  Tujuan Penulisan..................................................................................................   2
BAB II
2.1  Langkah-Langkah Penulisan Kritik...............................................................................................................................   3
2.2  Contoh Kritik..........................................................................................................   4
BAB III
3.1  Simpulan...................................................................................................................  11
3.2  Saran........................................................................................................................  11
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................   iii


   



BAB I
PENDAHALUAN
1.1              Latar Belakang
Istilah kritik sastra sudah dikenal sekitar 500 sebelum masehi, berasal dari kata “krinein” (Yunani) yang berarti menghakimi, membandingkan atau menimbang. Dalam sastra Inggris kritik sastra disebut istilah “critic” untuk menunjukkan orang yang melakukan kritik dan perbuatan kritik. Gayley dan scott dalam Teori sastra (2004) mengemukakan kritik sastra adalah mencari kesalahan, memuji, menilai, membandingkan dan menikmati. Pengertian yang lebih mantap dikemukakan Andre Hardjana dalam bukunya Kritik Sastra Sebuah Pengantar (1985) dalam mencari dan menentukan nilai hakiki dari karya sastra lewat pemahaman dan penafsiran yang sistematik dalam bentuk tertulis.
Kritik sastra mencakup penilaian guna memberi keputusan bermutu tidaknya suatu karya sastra. Kritik sastra biasanya dihasilkan oleh kritikus sastra. Penting bagi seorang kritikus sastra untuk memiliki wawasan mengenai ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan karya sastra, sejarah, biografi, penciptaan karya sastra, latar belakang karya sastra, dan ilmu lain yang terkait. Kritik sastra memungkinkan suatu karya dapat dianalisis, diklasifikasi dan akhirnya dinilai.
            Seorang kritikus sastra mengurai pemikiran, paham-paham, filsafat, pandangan hidup yang terdapat dalam suatu karya sastra.Sebuah kritik sastra yang baik harus menyertakan alasan-alasan dan bukti-bukti baik langsung maupun tidak langsung dalam penilaiannya.Berdasarkan pendekatannya terhadap karya sastra, jenis kritik sastra dapat dibedakan menjadi kritik mimetik, kritik pragmatik,kritik ekspresif,kritik objektif. Dalam mengkritik yang baik dan benar diperlukannya langkah-langkah yang tepat. Oleh sebab itu, di makalah ini akan dibahas tentang langkah-langkah membuat kritik sastra yang baik dan benar yang berdasarkan pendekatan yang digunakan.
1.2    Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah langkah-langkah penulisan kritik?
2.    Bagaimanakah contoh menuliskritik karya sastra?
1.3   Tujuan
1.    Mendeskripsikan langkah-langkah kritik sastra.
2.    Mendeskripsikan contoh menulis kritik karya sastra


BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Langkah-Langkah Penulisan Kritik
Menurut sumber buku Kitab Kritik Sastra karya Maman S. Mahayana langkah-langkah menulis kritik sastra sebagai berikut:
1.    Menentukan penyair/pengarang atau karya sastra yang kita anggap menarik. Kesukaan dan ketertarikan kita terhadap satu pengarang atau satu karya sastra akan membuat kita lebih mudah dalam menulis kritiknya.
2.    Memahami struktur karya yang telah kita pilih. Prosa memiliki unsur yang terdiri atas unsur intrinsik dan ekstrinsik. Jika yang dikritik adalah puisi, kita harus memahami unsur-unsur fisik dan batin puisi. Struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pencitraan, kata konkret, majas, dan bunyi, sedangkan struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, dan amanat.
3.    Lakukan penilaian berdasarkan unsur-unsur tersebut secara objektif dengan menampilkan dua penilaian, yaitu kelebihan dan kekurangannya. Selain melalui unsur-unsurnya, penilaian juga dapat dilakukan berdasarkan sisi kepengarangan. Namun, dalam hal menilai dari sisi kepengarangan, sastrawan seperti Sapardi Joko Damono mengatakan bahwa menilai dari sisi kepengarangan tidaklah adil karena baginya, karya sastra dan pengarang adalah dua entitas yang berbeda. Gunakanlah metode penelitian yang paling dikuasai.
4.      Mulailah menulis kritik dan tetapkanlah teorinya. Jika telah menetapkan tujuan dan motivasi, segeralah menulis. Jangan ditunda, karena dengan terus berusaha menulis ide-ide akan muncul, mengalir sedikit demi sedikit.Penguasan materi perlu juga dipertimbangkan dalam peembuatan kritik sastra. Sebab, dengan itu kita dapat mengesplorasi pendapat kita dengan landasan yang tepat sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan diterima oleh semua pihak.

2.2       Contoh Kritik
KRITIK NOVEL  “BIOLA TAK BERDAWAI”
oleh
Iim Sobandi, M.Pd.
Sinopsis Novel
Renjani meninggalkan Jakarta, untuk mengubur masa lalunya dan keinginannya untuk menjadi penari balet. Ia pindah ke Yogya dan mengabdikan hidupnya dengan merawat anak-anak tuna daksa yang tidak dikehendaki orang tuanya. Ia dibantu oleh seorang dokter berumur 40 tahun. Mbak Wid. Dewa 8 tahun, menjadi anak kesayangan Renjani dan diperlakukan sebagai anak normal. Renjani terkejut melihat reaksi Dewa, ketika iseng-iseng menari balet.
Hal ini yang membuatnya membawa Dewa ke resital biola. Disitu ia berjumpa dengan Bhisma, mahasiswa musik, 23 tahun. Bhisma tertarik pasca penampilan Renjani dari situlah persahabatan terjalin.
Empat Pendekatan Sastra dalam Novel “Biola Tak Berdawai”
1.      Pendekatan Mimetik
Karya sastra tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teuw, 1980:11). Novel ini didekati secara mimetik. Pendekatan mimetik memiliki pandangan bahwa karya sastra sebagai tiruan alam, kehidupan atau dunia ide. Bagian refleksi sosial budaya menjadi bahan kajian pendekatan ini..
Tanggapan:
Latar realitas bagi novel ini kondisi Yogyakarta, lebih luas lagi Indonesia tahun 2002. Sebuah peradaban yang diwarnai dengan penurunan nilai-nilai moral. Ketika dunia diterjang arus globalisasi sekaligus dengan dampak-dampak negatif yang ditimbulkannya. Berbagai bentuk pelanggaran menjadi menu harian berbagai media. Termasuk kasus-kasus pembuangan bayi menjadi liputan berita. Sering terjadi bayi-bayi tersebut sebagai hasil hubungan gelap. Ada juga bayi-bayi yang dibuang karena dianggap sebagai aib entah karena lahir cacat atau karena kelahirannya tidak diinginkan.
Tidak jarang juga terjadi pengguguran kandungan atau abortus. Secara etika moral dari saat pertama zigot sudah mempunyai identitas genetis. Semua yang dilakukan di dunia harus menyatakan bahwa dalam arti tertentu mereka berada pada saat pembuahan, walaupun embrio muda belum mempunyai identitas persona. (Bertens, 2003:114).
“Kamu buang anakmu?! Sinting kamu Renjani! Kamu gugurkan anakmu ya? Iya Renjani?! Iya?!” (halaman 54).
Tokoh Renjani seorang sosok yang pernah menggugurkan kandungannya. Kendati bayi tak berdosa tersebut harus terbentuk akibat hasil perkosaan seharusnya sang bayi memiliki hak untuk hidup. Tetapi tidak terlalu mudah bagi Renjani menerima begitu saja bayi yang tidak diinginkannya itu berkembang dalam rahimnya. Demikianlah dalam kegalauan yang mendalam ia memilih mengakhiri kehidupan sang embrio dari rahimnya.
Moralitas menentang abortus demikian pendapat Jean Paul Sartre. Pembicaraan ini mengakibatkan pro dan kontra antara legalisir melawan anti abortus. Masalahnya adalah apabila kehamilan tidak dikehendaki misalnya karena hasil perkosaan, si wanita tidak menginginkan kehamilannya, di sisi lain janin dalam kandungan juga mempunyai hak hidup. Maka timbullah polarisasi tajam antara pro pilihan dan pro kehidupan (Bertens, 2004: 139).
Konflik ini diangkat oleh Sekar Ayu Asmara dalam Film Biola Tak Berdawai, yang akhirnya di Novelkan oleh Seno Gumirah Ajidharma.
“Memang bayi Cempaka adalah bayi kesekian yang diletakkan di muka pintu pagar, tentu kita masih boleh terheran-heran, jika bayi-bayi tuna daksa dibuang karena keganjilan bentuk upanya, maka alasan membuang bayi yang bukan saja sehat, tetapi juga cantik, montok, dan membuat bahagia setiap orang yang memandangnya? Apakah pembuang bayi itu orang- orang miskin yang kurang pengetahuan? Sepanjang pengalaman pak Kliwon, hanya sekali terjadi da bayi diletakkan seorang pejalan kaki yang datang mengendap-endap di pagi buta. Selebihnya selalu diturunkan dari mobil, yang tidak jarang mewah, dan banyak juga yang nomornya dengan awalan B: mobil-mobil Jakarta. Bahkan Pak Kliwon merasa pernah mengenali wajah salah seorang dari mereka, sebagai wajah yang sering muncul di layar TV. (halaman 25).
Fenomena lain diangkat dalam “Biola Tak Berdawai” ini adalah maraknya pembuangan bayi-bayi tak berdosa. Ada yang dibuang di tempat sampah. Ada pula yang diletakkan di depan pintu panti asuhan. Fenomena memprihatinkan ini membawa sebuah kontras yang sangat jelas antara semangat cinta kasih dan ketidakpedulian dalam dalam setiap detil alur cerita novel ini.
2.      Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang dalam memandang dan mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi sastrawan, sebagai curahan perasaan dan luapan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan, atau sebagai produk imaginasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya. (Wiyatmi, 2006:82).
Tanggapan:
Pendekatan ekspresif mengkaji sastra bertitik-tolak dari kehidupan pengarangnya. Ini berkaitan dengan latar belakang kehidupan, daerah kelahiran, latar belakang sosialnya, pendidikan, dan pengalaman yang pernah dilewatkannya. Dalam hal ini karya sastra dianggap sebagai pancaran kepribadian pengarang, gerak jiwa, pengembangan imajinasi, fantasi pengarang yang tertuang dalam karyanya.
Novel “Biola Tak Berdawai” tidak dapat dipisahkan dari dua pengaruh kehidupan dua orang besar Seno Gumira Adjidharma dan Sekar Ayu Asmara. Seno Gumira lahir di Boston, 19 Juni 1958. Adjidharma adalah seorang wartawan dan penulis serba bisa dari generasi baru dalam sastra Indonesia. Tak kurang dari 25 judul buku yang ditulis Seno, terdiri dari esai, cerpen, roman dan juga skenario drama dan film. Buku-buku karya Seno beberapa di antaranya yakni: 
Atas Nama Malam, Wisanggeni, Sang Buronan, Sepotong Senja Untuk Pacarku, Biola tak berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. Seno dikenal sebagai seorang penulis situasi di Timor Timor tempo dulu.
Tulisannya tentang Timor-Timur dituangkannya dalam Trilogi buku Saksi Mata (Kumpulan Cerpen), Jazz, dan Insiden (Roman) dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan Esai). Seno juga dianugerahi sejumlah penghargaan, diantaranya South East Asia Write Award.
Sekar Ayu Asmara, adalah sosok kreatif yang enerjik. Lahir di Jakarta, dan pernah bermukim di Afganistan, Turki serta Belanda. Enerji kreatifnya telah muncul selama beberapa dasawarsa dalam bentuk dan dimensi yang berbeda-beda. Sekar pernah berkarir dalam dunia iklan, serta pernah menjadi komposer dan juga penulis lirik lagu untuk artis-artis papan atas. Ia juga tercatat sebagai pelukis yang telah berpameran tunggal.
3.      Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, semakin tinggi nilai karya sastra tersebut (Wiyatmi, 2006:86).
Tanggapan:
Saat kutelan makanan yang disuapkan ibuku.” Anak pintar, dan hanya anak-anak pintar seperti kamu yang boleh tinggal di sini.”Tapi mbak Wid, entah kenapa tersinggung dengan perhatian ibuku yang dianggapnya berlebihan. Nada suaranya tiba-tiba meninggi. “Anak-anak yang dibuang orang tuanya.Anak-anak yang bikin malu keluarga. Anak-anak yang cacatnya dobel-dobel. Anak-anak yang umurnya tidak lama!” ibuku mengimbangi dengan perlahan. “ Sssst… mbak Wid pun bicara tentang diriku. “Duh Renjani, Renjani, Renjani… saya tahu kamu sangat sayang sama Dewa, tetapi anak itu mengerti omongan kita. Itu anak tidak mengerti apa-apa…” Kuperhatikan kedua perempuan itu. Renjani begitu nama ibuku, seperti selalu mencoba memaklumi Mbak Wid yang betapa pun seperti telah menyerahkan hidupnya demi bayi-bayi cacat di rumah asuh ibu Sejati (halaman 18).
Pada dasarnya novel ini sarat dengan nilai-nilai moral. Dewa sebgai pribadi autis dan tuna daksa secara fisik seorang cacat yang diyakini tidak memiliki kemampuan untuk mengerti bahasa komunikasi manusia normal. Dalam keberadaannya itu Renjani tetap memperlakukan Dewa sebagai mana manusia normal. Ia patut dihargai sebagai manusia yang bermartabat. Ketika kehidupan tidak dihargai lagi, ketika nilai-nilai moral dan semangat cinta kasih tercabik-cabik. Renjani hadir membawa inspirasi dan pengharapan bagi orang-orang yang tidak berdaya. Apa yang dianggap sebagai mitos bahwa dengan cinta kasih dan ketulusan hidup dapat diubah. Ini tercermin dalam kisah ini. Ketulusan cinta Bhisma mendorongnya merawat Dewa ketika Renjani akhirnya meninggal akibat kanker rahim yang ia derita.
“.Aku ternyata memang mendongak di kuburan, bagaikan melihat ibuku terbang seperti bidadari di langit. Bhisma tertegun dengan biolanya. Tanpa kusadari dari mulutku keluar suara. “D…de…f…faa shaa… aaang ..iii..bu..” Bhisma mengangkat dan mendekapku, seperti mendekap cinta ke dalam hatinya (halaman 191).
Hampir keselurauhan watak Renjani dan Bhisma merupakan idealisme sebuah totalitas hidup dalam mencintai. Karya ini menjadi sangat patut dihargai karena memiliki muatan nilai moral yang tinggi. Cocok untuk dijadikan sebagai sarana penyampaian pesan moral bagi para pembaca. Novel ini mempengaruhi pembaca untuk memiliki ketulusan dan semangat untuk mencintai orang-orang yang tidak berdaya sperti Dewa dan bayi-bayi tuna daksa lainnya sehingga mereka dapat bertumbuh atau setidaknya mampu bertahan hidup dengan penderitaan dan situasi kurang menguntungkan yang mereka alami. Yang menjadi kelemahan dari novel ini adalah jalan cerita yang terlalu idealis. Apakah masih ada seorang Renjani yang totalitasnya seperti yang terdapat dalam Novel ini? Apakah novel ini menjadi hanya sebuah dongeng pengantar tidur belaka?.
4.      Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebgai struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarang, maupun pembaca. Wellek & Warren (1990) menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri. ( Wellek, melalui Wiyatmi, 2006:87).
Tanggapan:
Novel “Biola Tak Berdawai” berlatar kota Yogyakarta pada era tahun 2003. pada umumnya setting diketengahkan di Panti asuhan anak-anak tuna daksa. Dengan alur penceritaan flashback hal ini dapat dilihat pada episode novel pada bab 11 (halaman 77) secara mundur mengisahkan kembali pengalaman buruk atas tindak perkosaan yang dialami Renjani. Penceritaan adegan-adegan dalam novel ini diselingi dengan kisah pewayangan hal ini menyempurnakan penyampaian lapis arti di mana kisah Renjani memiliki kesamaan dengan kisah pewayangan. Kisah-kisah pewayangan ini sekaligus digunakan untuk menyampaikan stratum metafisika sebagai unsur yang intrinsik dalam keagungan sebuah tindakan totalitas seorang Renjani dalam pengabdian kepada anak-anak tuna daksa.
Dengan mengetahui norma-norma karya sastra ini, tahulah kita sekarang bahwa menilai karya sastra haruslah kita menilai berdasarkan norma-norma karya sastra itu, kita tidak hanya menilai “isi” dan “bentuk” karya sastra saja tetapi harus menilai sampai di mana kekuatan bunyi dapat dilaksanakan pengarang, bagaimana sastrawan menyusun kata-kata, atau kalimat, menyusun plot, berhasil atau tidakkah, juga sampai di manakah harga atau nilai pikiran-pikiran pengarang yang diungkapkan dalam karya lewat norma-normanya itu, dan bagaimana segi-segi atau norma-norma lainnya (Pradopo,1994:56).
Tanpa dawai, bagaimana biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya, tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu baagikan biola tak berdawai….(Ajidharma, 2003:1).
Refleksi penulis tentang korelasi antara jiwa dan tubuh digambarkan dengan memetaforakan antara biola dan dawai dengan badan dan jiwa. Tanpa dawai bagaimana biola bisa bersuara? Pilihan kata biola menjadi manifestasi keberadaan tubuh dan jiwa manusia. “menjelmakan jiwa” pilihan kata yang memiliki peran menghadirkan lapis arti stigma sekaligus lapis suara yang menimbulkan efek bunyi yang indah untuk didengar.
Kehidupan kepompong bergunakah kehidupan seperti itu? Tentu berguna, jika kepompongitu akan menjelma menjadi kupu-kupu kembali, melayang menemukan dirinya kembali. Begitu kuat keinginanku untuk mengembalikan kebahagiaan ibuku.” (Ajidharma, 2003:81).
Secara keseluruhan gaya penceriataan novel ini memiliki keseimbangan antara gaya bahasa yang lugas sekaligus penggunaan metafora. Meski pun pemakaian makna kias cukup tinggi intensitasnya namun bahasa dapat dipahami. Makna dan pesan mudah dicerna karena bahasanya sederhana dan menarik.
 

BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengkritik sebuah karya sastra yaitu:
1.    Menentukan penyair/pengarang atau karya sastra yang kita anggap menarik.
2.    Memahami struktur karya yang telah kita pilih yaitu unsur yang terdiri atas unsur intrinsik dan ekstrinsik.
3.    Lakukan penilaian berdasarkan unsur-unsur tersebut secara objektif dengan menampilkan dua penilaian, yaitu kelebihan dan kekurangan serta sisi kepengarangan.
Berdasarkan pendekatannya terhadap karya, jenis kritik sastra dapat dibedakan menjadi kritik mimetik, kritik pragmatik, kritik ekspresif dan kritik objektif yang diaplikasikan penulis pada kritik novel “Biola Tak Berdawai”
3.2  Saran
1.      Makalah mengenai langkah-langkah dan contoh penulisan kritik ini hendaknya dapat menjadi sumber tambahan  pada mata kuliah menulis kritik dan esai.
2.      Makalah langkah-langkah dan contoh penulisan kritik masih terkendala dengan sumber pustaka. Alangkah lebih lengkapnya jika terdapat banyak sumber pustaka.
3.      Pengalaman ini sangat berguna bagi penulis sebagai seorang mahasiswa, karena lewat pengkajian ini pemahaman tentang kritik semakin diperkaya. Pengkajian yang sederhana ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang berguna bagi kemajuan bersastra dan kegiatan ilmiah penulis.


DAFTAR PUSTAKA
Rahman, Elmustian dan Jalil, Abdul. 2004. Teori Sastra. Pekanbaru: Labor Bahasa dan Jurnalistik Universitas Riau
Wellek, Rene dan Werren, Austin Warren. 2013. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Dra. Zulfahnur Z.F.,M.Pd. Lingkup Ilmu Sastra: Teori Sastra,  Sejarah Sastra, dan Kritik Sastra,  serta Hubungan antara Ketiganya (http://repository.ut.ac.id/4735/1/PBIN4104-M1.pdf)
m.kompasiana.com/iim_sobandi/bedah-biola-tak-berdawai-melalui-empat-pendekatan-sastra_5522c6b8f17e611c3dd62445

Tugas UAS Menulis Kritik (Menggunakan Kritik Objektif)

S urat Kecil Untuk Tuhan SINOPSIS Novel Surat Kecil Untuk Tuhan ini   menceritakan gadis yang bernama Keke yang terkena penyak...